L2P UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Temukan setiap halaman yang menunggu untuk dibaca, setiap pengetahuan yang siap mengubah dunia.
Universitas Muhammadiyah Ponorogo
Temukan setiap halaman yang menunggu untuk dibaca, setiap pengetahuan yang siap mengubah dunia.
C. A. Van Peursen - Nama Orang;
Buku · 1988
Prakata
Usaha pembangunan dan modernisasi kita telah menghadapkan kita secara langsung dengan masalah kebudayaan Indonesia dan dengan proses kebudayaan kita memperbaharui diri dalam menjawab tantangan-tantangan kehidupan modern. Penghadapan itu telah menimbulkan suatu diskusi yang sangat penting di kalangan umum tentang perlunya kita mempertahankan kepribadian kita dalam menghadapi perubahan-perubahan sosial yang sangat luas dan mendalam sekarang ini, serta dalam menghadapi pengaruh kebudayaan dari luar negeri dalam berbagai bentuk, termasuk gaya hidup, pola konsumsi, teknologi dan ilmu pengetahuan serta impact komunikasi massa. Di samping itu disadari bahwa karena di dalam masyarakat yang pluralistis kita ini, baik dilihat dari sudut suku bangsa, golongan agama dan daerah, di mana golongan-golongan yang ada tidak sama kemampuan dan kecepatannya untuk menyesuaikan diri dan memanfaatkan kesempatan-kesempatan baru atau untuk membela diri terhadap aspek-aspek negatifnya, masalah persatuan bangsa merupakan suatu masalah yang terus-menerus memerlukan perhatian dan usaha yang efektif. Maka segala aspek ini bertemu dalam usaha untuk merumuskan suatu strategi kebudayaan yang mampu membimbing proses modernisasi dan pembangunan sesuai dengan memperkuat kepribadian nasional, kontinuitas kebudayaan, dan kemampuan kita untuk berdiri di atas kaki sendiri, sekaligus dengan memperkuat kesatuan nasional. Buku ahli filsafat Van Peursen yang disajikan ini dapat memperkuat kemampuan kita untuk menyinari permasalahan itu, karena dia mengemukakan suatu kerangka teoritis yang sangat praktis.
Berpangkal pada teori informasi Van Peursen melihat kebudayaan sebagai siasat manusia menghadapi hari depan. Dia melihat kebudayaan itu sebagai suatu proses pelajaran, suatu "learning process", yang terus-menerus pelajarannya. Di dalam proses ini bukan saja kreativitas dan inventivitas merupakan faktor penting, melainkan kedua faktor ini kait-mengait dengan pertimbangan-pertimbangan ethis. Tanpa penilaian ethis ini manusia tidak dapat mengambil tanggung jawab untuk keadaan-nya, untuk teknologi yang dipakai dan dikembangkannya, maupun untuk struktur-struktur sosial dan bentuk-bentuk organisasinya. Bahkan baginya penilaian-penilaian ethis ini membuka mata manusia untuk melihat kemungkinan-kemungkinan baru yang melampaui keadaan yang ada, dan inilah dilihatnya sebagai jalan manusia ke...
Tidak tersedia versi lain